Breaking News

JA Endar Muda: Tokoh Pers Sian Batak

JA ENDAR MUDA RAJA SURAT KABAR SUMATERA
Oleh Basyral Hamidy Harahap



Raja persuratkabaran Sumatera, Ja Endar Muda juga dikenal dengan nama Haji Muhammad Saleh, lahir di Padangsidimpuan tahun 1861, lulusan Kweekschool Padangsidimpuan tahun 1885. Dia memulai karier gurunya sebagai guru bantu di Air Bangis. Pada saat itulah Ja Endar Muda menjadi editor correspondence majalah bulanan pendidikan Soeloeh Pengadjar yang terbit di Probolinggo pada tahun 1887. Ja Endar Muda kemudian pindah ke Batahan dan Singkil. Dia naik Haji dari Singkil tahun 1892, kemudian sekembalinya dari tanah suci tahun 1893 dia putuskan untuk menetap di Padang.

Ja Endar Muda berpendapat, karier gurunya harus ditingkatkan ke bidang yang lebih luas dan lebih langgeng pengaruhnya. Maka dia pun berhenti dari pekerjaan guru untuk beralih ke bidang persuratkabaran. Dia menjadi editor surat khabar Pertja Barat yang pertama kali terbit tahun 1890 di Padang. Pada tahun 1900 dia menjadi editor dua surat khabar sekaligus. Pertama, Tapian Na Oeli yang diterbitkan di Sibolga sejak tanggal 20 Oktober 1900. Kedua, Insulinde yang diterbitkan di Padang dan beredar di Sumatera dan Jawa. Dia menulis dalam kolom editor tentang tujuan penerbitan berkala ini, yaitu meningkatkan peranan guru dan priyayi untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia.



Insulinde mirip dengan majalan pendidikan Matahari Terbit yang diterbit di Probolinggo tahun 1895. Ketika seluruh kekayaan Insulinde dilelang, Ja Endar Muda dan J.C. Holtzappel membelinya. Ja Endar Muda membeli percetakannya. Inilah langkah pertama Ja Endar Muda menjadi raja persuratkabaran di Sumatera. Mulai bulan Februari 1905, Ja Endar Muda memusatkan perhatiannya memajukan Pertja Barat. Ja Endar Muda tampil sebagai wartawan yang disegani para wartawan Belanda yang bekerja di Sumatra Courant yang terbit di Padang.

Setahun sebelumnya, 9 Januari 1904, Ja Endar Muda sudah menjadi redaksi surat khabar Minangkabau pertama Alam Minangkabau. Pembaca utama surat kabar beraksara Arab gundul dan berbahasa Melayu ini adalah masyarakat Muslim Mandailing-angkola dan masyarakat Minangkabau.

Pada tahun 1906 Ja Endar Muda menerbitkan mingguan Pemberita Atjeh di Kutaraja. Kemudian tahun 1908 Ja Endar Muda menerbitkan tiga surat kabar. Pertama penerbitan kembali surat kabar Warta Berita yang gulung tikar setahun sebelumnya. Kedua, berlaka Minangkabau yang dicetak di percetakannya sendiri. Ketiga, Pewarta Deli yang dicetak di percetakan milik Sjarikat Tapanoeli. Ja Endar Muda kembali lagi ke Aceh bersama dengan putranya, Kamaruddin, untuk menerbitkan Bintang Atjeh.

Ja Endar Muda adalah salah seorang yang dapat menangkap makna gagasan-gagasan pembaharuan Willem Iskander dalam rangka gerakan pencerdeasan bangsa melalui buku, majalan dan surat kabar, yang dicanangkan di dalam berbagai tulisan Willem Iskander.

_______________________

Catatan: Penulis mengoreksi beberapa salah ketik, seperti: sukar khabar menjadi surat khabar dan edito menjadi editor. Selain itu, mengetik dengan huruf miring judul surat kabar dan majalah dan kata-kata berbahasa Inggris. Sebelumnya artikel ini disiarkan oleh Abdur-Razzaq Lubis dari Pulau Pinang, Malaysia, dalam rubrik Horas Mandailing di situs http.www://mandailing.org


Selanjutnya

Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini