Breaking News

Rakernas PBI

RAPAT Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Batak Islam (PBI) yang akan berlangsung di Asrama Haji Pangkalan Masyhur Medan, 15 s/d 16 Juni 2008, akan merumuskan peta dakwah Islam di Tanah Batak. Rakernas akan diawali Seminar “Prospek Dakwah di Sumatera Utara” dibuka Gubsu terpilih H Syamsul Arifin SE.



Terkait Rakernas dan seminar tersebut, panitia telah melakukan rapat teknis dipimpin langsung Ketua Umum DPP PBI Prof DR Abdul Muin Sibuea Mpd di Medan, Kamis (12/6). Rapat tersebut juga dihadiri Sekjen DPP PBI Drs H Zulpadli Sirait, Penasehat Hj Zainab Tampubolon SH, dan pengurus DPP PBI lainnya yakni Prof DR Harun Sitompul Mpd, Drs Abyadi Siregar, Drs Agus salim Ujung, Mayjen Simanungkalit, Jonson Sihaloho SHI, RE Gultom,Drs Jon Masren Saragih dan lainnya.

“Penyusunan peta dakwah perlu bagi PBI, yang nantinya akan dijadikan acuan untuk mengoptimalkan aktivitas dakwah di Tanah Batak”, kata Ketua Panitia Rakernas PBI Drs Agus Salim Ujung dan Sekretaris Mayjen Simanungkalit.

Penelitian-penelitian dakwah yang selama ini dilakukan PBI,kata Agus Salim Ujung, menunjukkan bahwa inefisiensi dan inefektifitas dakwah itu disebabkan, di antaranya, oleh kelemahan sistematika dan perencanaan. Dakwah masih cenderung dilaksanakan secara sendiri-sendiri tanpa bangunan sistemik yang mengorganisirnya dan masih cenderung “instant” dan spontan nyaris tanpa perencanaan.

Karenanya, peta dakwah perlu disusun termasuk peta sosiologis medan dakwah, termasuk di dalamnya memetakan tentang kondisi umum masyarakat, potensi ekonomi, pranata sosial, organisasi sosial, kesadaran lingkungan, khazanah tradisi, praktik ritus, khazanah mitos, norma dan tatakrama, pranata hukum, kepemimpinan, kontrol sosial, dan tantangan yang dihadapi.

Relevansi antara peta sosiologis dengan perencanaan dakwah ini mendesak dirumuskan sebagai social setting, yang diharapkan berguna sebagai rambu pemandu jalan atau pijakan penopang bagi para da’I untuk berdakwah secara efektif dan efisien di Bona Pasogit Tanah Batak.

Mayjen Simanungkalit menambahkan, selama ini dakwah Islam di tanah Batak masih disampaikan dengan cara dan strategi yang kurang tepat sasaran.Sehingga dakwah Islam terkesan tidak berkembang dan kurang fungsional. Padahal, dakwah merupakan proses mengubah manusia menuju kehidupan yang Islami. Maka, dakwah hendaknya disampaikan sesuai dengan konteks kebutuhan masyarakat.

Strategi yang kurang tepat sasaran tersebut antara lain terlihat dari materi dakwah, cara penyampaian, hingga penguasaan wawasan yang kurang mendalam. Apalagi, hingga saat ini belum ada peta dakwah yang komprehensif untuk menjadi rujukan dalam melaksanakan dakwah dan memberdayakan umat Islam di tanah Batak.

Dengan dasar itu, dalam Rakernas PBI tersebut akan dirampungkan peta dakwah untuk melakukan perkiraan yang akurat. Dengan itu, jika ormas islam berdakwah ke tanah batak dapat mengetahui gambaran kondisi masyarakat setempat dan mengetahui apa yang dibutuhkan mereka.

“Kita memerlukan peta dakwah guna memudahkan perencanaan dan operasional dakwah. Dengan peta yang jelas, strategi dakwah yang dilakukan juga akan lebih efisien. Misalnya, mungkin perbaikan ekonomi yang dibutuhkan masyarakat atau mungkin juga akidah yang dikedepankan”, kata Agus Salim Ujung.

Karenanya, untuk memudahkan penyusunan peta dakwah tersebut Rakernas PBI sengaja diawali dengan seminar menghadirkan fakar yang berkompeten. Panitia seminar itu langsung dipimpin Prof DR H Aslim D Sihotang SpM, yang dikenal sebagai tokoh Batak Islam dan dokter spesialis mata yang cukup disegani.

Sumber