Breaking News

Myanmar Sebut ASEAN 'Anjing Peliharaan' AS

Junta Militer Myanmar menyatakan kekecewaannya kepada ASEAN. Pasalnya, penguasa negara itu merasa tidak dianggap oleh asosiasi negara Asia Tenggara dalam penyelesaian konflik yang mendera dalam negerinya.

Kementerian Luar Negeri Myanmar mengatakan bahwa ASEAN telah mengabaikan negaranya dengan menetapkan batas waktu bagi perdamaian. Menurut mereka, ini tidak akan menyelesaikan masalah dan berimplikasi negatif.

"Memasukkan tekanan tambahan dengan menetapkan jangka waktu akan menciptakan lebih banyak implikasi negatif daripada yang positif," tulis pernyataan resmi yang dikutip AFP, Kamis, (28/10/2022).

Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta pada Februari tahun lalu, dengan lebih dari 2.300 orang tewas dalam tindakan brutal militer terhadap perbedaan pendapat.

ASEAN pun sejauh ini masih berusaha memecahkan kebuntuan berdarah tersebut. Para menteri luar negeri blok tersebut bertemu di Jakarta pada hari Kamis untuk membahas krisis tersebut. Junta tidak diwakili setelah menolak undangan untuk mengirim tokoh nonpolitik.

Namun, dengan langkah ini, Myanmar menuding Asean telah melakukan 'diskriminasi' karena tidak mengundang Menteri Luar Negeri yang ditunjuk junta, Wunna Maung Lwin, ke pertemuan di Jakarta.

Diketahui, Pemimpin Junta Min Aung Hlaing juga belum akan diundang ke pertemuan puncak para pemimpin Asean bulan depan. Selain itu, diplomat top Maung Lwin dikeluarkan dari pembicaraan tingkat menteri pada Februari dan Agustus.

"Kebijakan ASEAN tentang keterlibatan konstruktif tidak lagi di atas meja. ASEAN tampaknya bertindak sebagai 'anjing peliharaan' bagi AS," tulis salah satu surat kabar yang dikendalikan Junta.